Selasa, 09 Oktober 2007

Tukulisme


Gatra, 3 Oktober 2007


Saya dengar acara “Empat Mata”-nya Tukul Arwana di sebuah stasiun TV sudah tak lagi berkibar-kibar ratingnya. Ia tak lagi menjadi acara yang paling diminati pemirsa TV Indonesia. Posisinya sudah melorot jauh. Tapi, bagaimanapun Tukul telah meninggalkan sesuatu yang sesungguhnya sangat berarti buat kita. Mungkin tanpa kita sendiri menyadarinya.

Tukul dan “Empat Mata”-nya adalah sebuah fenomena. Ia dengan cepat menarik minat pemirsa dalam jumlah luar biasa. Ratingnya – terlepas bahwa kita tak gampang percaya pada validitasnya – bertengger di urutan teratas selama lebih dari satu tahun. Talkshow ini menjadi sajian hiburan bukan saja bagi kalangan masyarakat kebanyakan di warung-warung kopi tetapi juga Ibu Presiden di Istana Negara. Tukul pun menuai popularitas secara saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tapi, bukan capaian jumlah penonton dan popularitas itu yang sejatinya membikin Tukul fenomenal. Fenomena Tukul terletak pada kesediaan, kemampuan dan kekuatan Tukul untuk menertawakan diri sendiri. Dengan rileks Ia mempertontonkan dirinya secara apa adanya. Lalu, segala hal-ihwal buruk yang melekat pada dirinya dibiarkannya – bahkan didayagunakan -- menjadi bahan sorakan, sindiran dan tertawaan penonton di studio serta pemirsa di depan layar kaca.

Dengan enteng, Tukul mempertontonkan bahasa Inggrisnya yang hancur-hancuran, kemampuan berdialog dengan narasumber yang sangat terbatas, ketidakmengertiannya pada sebagian naskah wawancara yang disiapkan tim “Empat Mata”. Ia seolah berkata secara retoris pada kita, apa salahnya jadi orang bodoh, tak becus bahasa asing, dan punya pemahaman serba terbatas tentang dunia? Tidakkah jujur akan semua kekurangan diri sendiri serta berani memperlihatkannya justru merupakan sesuatu yang amat bernilai?

Dengan serta merta kita pun menerima Tukul dengan tangan terbuka. Kita yang terbiasa bersua dengan para pejabat publik, figur publik dan tokoh-tokoh yang selalu memasang topeng pemanis rupa, merasa bertemu dengan sosok yang sungguh dirindukan alam bawah sadar kita. Pada Tukul kita menemukan kejujuran, kesediaan menampilkan diri apa adanya, dan kemampuan menertawakan diri sendiri. Sebuah cara menampilkan diri yang terasa sehat dan patut.

Itulah Tukulisme itu. Sesuatu yang membikin kita gampang terpikat.

Daya pikat sejenis saya temukan pada Samuel Mulia, penulis rubrik “Parodi” di sebuah koran nasional. Sungguh mudah dan ringan menerima kolom Samuel beserta segenap pesan mulia di dalamnya. Sebabnya sederhana saja: Samuel dengan santai kerap membiarkan dirinya menjadi contoh dari hal-hal buruk yang ditulisnya. Sebaliknya, ia hampir selalu mencari dan menunjuk orang lain sebagai contoh atau ilustrasi tentang kebaikan.

Akibatnya, kolom-kolom etiket dan perilaku Samuel tak pernah terasa menggurui. Ia tak pernah tampil sebagai pengkhotbah yang nyinyir. Kita, para pembacanya, justru seperti bersua dengan kawan bicara rendah hati yang senantiasa riang di tengah segenap kebusukan dan keterbatasan dirinya.

Pada dasarnya, mereka yang secara bersahaja menampilkan diri apa adanya biasanya memang mempesona. Pesona mereka justru bersumber dari absennya kecenderungan untuk tebar pesona. Daya pesona mereka terletak pada kerelaan menampilkan diri apa adanya. Mereka pun tak terasa sebagai makhluk asing di sekitar kita. Mereka hadir sebagai bagian dari keseharian kita yang centang perenang. Mereka menjadi manusia biasa dengan segenap keunggulan dan kebobrokannya.

Celakanya, agak jarang menemukan politisi dan pejabat publik penganut Tukulisme. Umumnya politisi dan pejabat publik kita berusaha menampilkan dirinya dalam balutan kesempurnaan – sesuatu yang sesungguhnya hanya fatamorgana. Mereka mematut diri habis-habisan. Seolah-olah, di bawah tampilan penuh kesempurnaan itu lah publik dan calon pemilih akan bertekuk lutut lalu mendukung mereka.

Saya tak percaya teori tekuk lutut semacam itu. Politisi dan pejabat publik justru terlihat berkilau penuh nilai menakala rela menampilkan diri apa adanya, jujur mengakui segenap kelemahannya, dan menghormati hak setiap orang untuk mengeritik dan mengingatkannya. Politisi dan pejabat publik terbaik bagi saya adalah mereka yang tampil bak manusia biasa, layaknya tetangga sebelah rumah.

Pada pejabat semacam itu, kita tak berharap menemukan pengetahuan yang unggul serta retorika yang canggih. Di atas segalanya, kita bisa berharap bahwa mereka penuh empati. Merekalah para pejabat bernilai dan langka. Selama nyaris satu dekade reformasi, kita kelebihan pejabat banyak tahu dan canggih beretorika. Pada saat sama, kita mengalami defisit pejabat berempati.

Maka, ada baiknya Tukul tak sekadar kita jadikan tontonan dan bahan hiburan. Di atas segalanya, Ia sesungguhnya sebuah tempat belajar yang bersahaja.

[Sumber foto: Suara Merdeka]

3 komentar:

arham mengatakan...

Bang Eep, it is a good catch!

Wawan E. Kuswandoro mengatakan...

Masyarakat kita memang seneng melakukan kekerasan kepada orang (atau kelompok) lain. Tukul (atau desainer "Empat Mata") melihat itu dengan cerdas melalui ketidakcerdasan Tukul. Ia (mereka) membiarkan dirinya diolok-olok masyarakat yang gemar kekerasan (penggemar "Empat Mata"?). Semoga menurnnya rating itu bukan cuma kebosanan penonton, tetapi masyarakat kita memang benar-benar "tobat" dari libido pro-kekerasan.

Tukulisme Politik or Tukulisme Politisi?

Thank's Bang Eep...
Salam.

Anonim mengatakan...

Tetapi Mas Tukul Arwana tidak belajar bahasa inggris meskipun tahu tidak cukup lancar untuk ukuran presenter TV, hahaha... Seperti halnya, ide reformasi birokrasi dengan praktek korupsi di negeri kita ini.
Tukulisme memang sebaiknya dipahami sebagai "kebersahajaan" dan "kristalisasi keringat", sehingga politisi maupun elemen masyarakat lainnya dapat melihat ketidaksempurnaan dirinya sebagai cermin langkah perbaikan secara terus menerus.

(Kembali ke Lap..Top !!)